Rabu, 11 Juni 2014

BAGAIMANA MENJUAL SECANGKIR KOPI DENGAN HARGA PULUHAN KALI LIPAT TAPI ORANG BANYAK MEMBELI?

Ada yang menarik saat saya menaiki pesawat Citilink dari Bandara Husein Sastranegara Bandung menuju Bandara Kualanamu, Medan tadi pagi. Di setengah perjalanan diinformasikan akan ada pramugari yang menjual berbagai snack dan minuman.

Biasanya, di beberapa pesawat sekelasnya penjualan kurang laku. Tapi di pesawat ini saya melihat begitu banyak yang memesan. Padahal harganya WOW, untuk seukuran kantong mahasiswa kayaknya mikir 2 kali.

Karena penasaran, saya beli secangkir white coffee hanya untuk mengetahui berapa harga dan bagaimana cara membuatnya.

Eng ing eng..
ternyata, hanya bermodalkan air panas biasa. Seorang pramugari membuka kopi bungkusan yang saya taksir harganya nggak lebih dari Rp.1000. Tebak berapa harganya? Rp 15.000.

Saya yang awalnya menyiapkan uang Rp.10.000 terpaksa merogoh saku lebih dalam untuk mencari tambahan Rp 5.000 lagi. Begitu juga harga sebuah mie gelas yang saya tahu harga d toko paling Rp 3.000 dijual Rp 15.000.

Saya hitung dengan jumlah kursi dan presentase penumpang yang beli ternyata dalam satu kali penerbangan, margin keuntungan yang bisa didapatkan hanya dari jualan mie instan dan kopi saja bisa mencapai Rp.3 juta.

Menarik sekali,
Harga penerbangan memang terjangkau!
Tapi keuntungan bisa didapatkan dari produk turunan lainnya.
Dengan keuntungan bisa mencapai 14 kali lipat dari harga pokok produksi.

Bukan hanya itu, sayapun melihat efisiensi yang sangat bagus, dengan kertas tiket yang dicetak hanya dengan secuil kertas namun sudah termasuk airport tax. Sungguh sebuah terobosan yang memberikan efiesensi yang baik untuk segmen eksekutif muda juga anak muda yang senang traveling.

Pembelajaran yang bisa saya dapatkan:
1. Dalam berbisnis, persiapkan produk turunan lainnya yang bisa dijual. Pernah kan ke sebuah mini market ditawai isi pulsa? (Kirain gratis, hehe..)
2. Tekan ongkos produksi, yang bisa dipotong, potong saja. Yang tidak terlalu berpengaruh pada omset tak perlu dilakukan.
3. Positioning yang tepat. Fokus dengan segmentasi bisnis yang akan di bidik. Jangan terlalu luas, sehingga tak jelas dengan apa yang dibidik.


Salam Muda Karya Raya!
Setia Furqon Kholid

0 komentar:

Posting Komentar