Minggu, 06 Juli 2014

Rahasia Berhaji dengan Kedua Orang Tua


Saya, Setia Furqon Kholid, dibesarkan oleh kedua
orang tua yang kuat memegang prinsip Islam. Ayah
saya, Setiawan Irianto yang berprofesi sebagai guru
SD menjadi guru pertama dalam kehidupan saya.
Ayah mengajarkan banyak arti tentang
kemerdekaan, keceriaan dan keikhlasan. Saya anak
kedua dari lima bersaudara. Ibu saya, Siti Sa’adiah
yang biasa dipanggil umi hanya berasal dari sebuah
desa namun sangat penyayang dan taat beribadah.
Tahun 2005, saat saya masih duduk di kelas 2 SMA
di Bandung, hobi utama saya adalah membaca.
Hobi ini mengantarkan saya membaca sebuah
novel yang mengubah persepsi saya tentang dunia,
judulnya “Ayat-Ayat Cinta” karya Habibburrahman
El-Shirazy. Alhamdulillah, dengan tekad ingin
seperti Fahri, tokoh utama novel tersebut, akhirnya
saya tulis di sebuah karton besar “Target Lima
Tahun Ke Depan”.
Beberapa cita-cita yang saya tuliskan saat itu
diantaranya:
1. Kuliah S1 di : Kairo/ Amerika/ Australia atau ITB/
UNPAD
2. Punya tabungan yang banyak dan berkah
3. Ikut banyak organisasi positif
4. Berhaji dengan kedua orang tua
5. Punya rumah pribadi dan mobil sendiri
6. Hafidz 30 Juz
7. Menjadi Penulis Best Seller dan bermanfaat
8. Searching Istri sholehah, cantik dan baik
nasabnya
Subhanallah, dari 8 cita-cita itu hampir semuanya
sudah terkabul, kecuali poin ke-1. Tetapi, Allah
ganti cita-cita pertama itu dengan kuliah di UPI
jurusan Pendidikan Ilmu Komputer dengan jalur
PMDK. Akhirnya saya pun mendapatkan beasiswa
penuh S1 Putera Sampoerna Foundation. Itulah
hebatnya Allah memberikan takdir terindah pada
kita semua. Boleh jadi saat saya diterima kuliah di
luar negeri, tidak ada Setia Furqon Kholid yang
dikenal sebagai seorang penulis dan motivator
sampai sekarang ini.
Kalau Anda tahu, saat SMA saya sudah punya
tekad, “Saya tidak mau kuliah kalau masih
memberatkan orang tua. Saya harus mandiri atau
dapat beasiswa”. Alhamdulillah, akhirnya cita-cita
itupun terkabul. Apakah cita-cita untuk kuliah di
luar negeri terhapus? Tidak. Saya tetap
mengusahakannya. Saat kuliah semester empat,
saya sempat daftar beasiswa ke New Zealand,
namun belum berhasil di sesi terakhir saat
wawancara. Bahkan saat lulus S1 pun, saya masih
mencoba daftar beasiswa S2 ke luar negeri. Tapi
apapun rencana kita, lebih indah rencana Allah
untuk diri kita.
“Boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu
tidak baik bagimu, boleh jadi kamu membenci
sesuatu padahal itu baik bagimu. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui dan kamu tidak
mengetahui”.
Singkat cerita, saat SMA kelas 3 saya pernah
mengikuti sebuah training yang membuat sebuah
perubahan dalam diri saya. Sepulang dari traning
itu, saya bertekad untuk jadi seorang trainer yang
bisa membuat orang tersenyum, menangis, dan
berubah. Semenjak itu, ratusan buku saya baca,
beragam audio motivasi saya dengarkan dan
puluhan training saya ikuti. Latihan menjadi
seorang public trainer pun saya lakukan dengan
banyak keterbatasan. Tak disangka, ternyata inilah
jalan hidup saya.
Bakat menulis pun telah terasah sejak SMP. Saya
paling senang membuat puisi dan membacakannya.
Selain itu saya sering membuat essay, sempat saat
SMA saya menjuarai sebuah lomba karya tulis
tingkat provinsi. Alhamdulillah.
Ternyata, semua mozaik hidup indah inilah yang
mengantarkan saya menjadi seorang motivator
nasional dan penulis Best Seller saat ini hingga
nanti, semoga.
Masih ingat, saat tahun 2010 saya sering bertanya,
“Umi (ibu), mau hadiah apa dari aa?”. Umi selalu
menjawab, “Umi gak mau apa-apa, hanya ingin
berhaji ke Mekkah”. Kata-kata inilah yang merasuk
ke otak bawah sadar saya, hingga saya bertekad,
suatu saat nanti saya harus bisa menghajikan
ayah dan umi. Tepat lima tahun setelah saya tulis
di dinding kamar itu, keajaiban pun terjadi.
Suatu hari saya ingat pesan Ustadz Yusuf
Mansyur, “Kalau mau berhaji, ya sedekah yang
terbaik. Kalau ada cincin ya cincin atau apapun”.
Akhirnya saya dan umi memutuskan bersedekah
yang cukup besar untuk renovasi sebuah masjid.
Alhamdulillah, tiga bulan setelah itu, saya dapat
sebuah proyek pembuatan modul di sebuah instansi
dengan proyek senilai 45 juta rupiah. Bersamaan
dengan itu saya didaftarkan teman untuk mengikuti
sebuah award, “Lelaki Sejati Pengobar Inspirasi”.
Pemenang utama award tersebut berhak
mendapatkan hadiah sebesar 25 juta rupiah. Sujud
syukur penuh rasa haru saat itu, kembali saya
ingat tekad untuk menghajikan kedua orang tua.
Lalu saya berkata, “Umi, ayah, doakan kalau aa
sukses proyek ini dan menjadi pemenang award.
Aa ingin buka tabungan haji untuk ayah dan umi”.
Dan ternyata alhamdulillah, Allah wujudkan do’a
itu. Akhirnya, saya, umi dan ayah membuka
tabungan haji tahun 2010.
Alhamdulillah, tahun 2013 kemarin Allah
mengundang saya dan kedua orang tua untuk
berhaji, semoga menjadi haji yang mabrur. Amin.
Apa yang saya lakukan untuk mendapatkannya:
1. Saya memimpikannya
2. Saya menuliskannya
3. Saya berdoa dan melakukan percepatan dengan
sedekah dan do’a dari kedua orang tua
4. Saya berusaha mencari jalannya
5. Saya mendapatkannya
Begitu juga dengan Sahabat, yang ingin
menghajikan kedua orang tua. Bermimpi saja dulu,
kan gratis! Lalu mulailah buka tabungan haji,
walaupun uang belum semuanya tekumpul.
Mintalah do’a dari kedua orangtua, perbaiki diri,
pantaskan diri, dan berikhtiarlah secerdas mungkin.
Semoga Sahabat semua bisa membahagiakan
orang tua salah satunya dengan menghajikan
mereka. Aamiin

0 komentar:

Posting Komentar