Namanya Pak Budi Satria Isman. pernah menjabat
jadi CEO di beberapa perusahaan multinasional seperti Coca Cola, Sari
Husada dan Danone ini begitu luar biasa.
Saat berbagi cerita inspiratifnya kemarin di depan puluhan pengusaha muda beliau menjelaskan pengalaman masa mudanya yang cukup memprihatinkan.
Dibesarkan dari lingkungan pendidikan bahkan ayahnya seorang rektor di
sebuah Universitas di Sumatera, Beberapa kali masuk dan Drop Out dari
berbagai Universitas di Indonesia, dari ITB sampai terakhir di UI.Di UI
hanya beberapa semester saja ia bertahan. ia justru lebih senang main
band dan mencoba hal-hal lainnya. Dari usia 17 tahun iapun sudah membuka
PT yang menjadi distributor buku-buku luar negeri untuk di masukkan ke
kampus-kampus.
Akhirnya, Sang ayah pindah ke Amerika Serikat
membawa serta Budi Isman muda. Setelah 7 tahun tanpa hasil kuliah, usaha
yang Budi muda rintispun dijual semuanya. Sampai ayahnya yang sudah
bingung bagaimana mengarahkan sang anak berkata, "Nak, Bapak sudah
lelah. Sekarang terserah kamu mau jadi apa. Hanya saran Bapak jangan mau
jadi orang rata-rata. Jadilah orang yang seperti kurva ekstrim. Kamu
akan lebih dihargai. Jadilah yang terbaik dalam pilihanmu".
Dengan kata-kata itu iapun tersadar. Iapun mulai mencoba untuk daftar
kuliah di sebuah Universitas Swasta di AS. maklum tak ada kampus manapun
yang menerima seorang anak dengan IPK 1,2 dari Indonesia.
Lucunya, keahlian negosiasinya pun mulai dipakai. Beberapa kali pihak
kampus dengan harga per kredit mata kuliah 500 dolar itu menolak, namun
ia coba untuk bernegosiasi. Misalnya, "Pak, di Indonesia nilai A itu
hanya milik Tuhan. Nilai B itu milik dosen, nah C,D dan E itu milik
mahasiswa. Ayolah Pak, terima saya untuk kuliah disini. Toh kalau saya
gagal dapat nilai A disini apalagi DO, Bapak sudah dapat uang dan tak
mesti meluluskan saya".
Akhirnya iapun ditantang untuk dapat
niai A. Dengan kesungguhannya untuk berubah, iapun bekerja keras untuk
belajar dan mengubah kebiasaan buruknya. Berbagai buku ia lahap,
tidurpun hanya 2 jam setiap hari sampai hari ini. Akhirnya, iapun
berhasil mendapatkan nilai A di semua mata kuliah tersulit yang
diberikan. karena nilai sebelumnya di Indonesia diterima akhirnya ia
bisa lulus kuliah S1 1,5 tahun. Dilanjutkan S2 di Amerika Serikat juga
hanya dalam waktu 1 tahun.
Selesai kuliah, iapun bekerja di
beberapa perusahaan di Amerika, sebelum akhirnya pindah ke Indonesia dan
berkarir menjadi profesional di perusahaan-perusahaan ternama. Salah
satu prestasi beliau adalah memperbaiki perusahaan Sari Husada (Susu
SGM) dalam kurun waktu 2,7 tahun yang awalnya hanya bernilai saham Rp. 4
T, saat dijual kembali jadi Rp. 22 T. Di usia 47 tahun, saat ia sudah
merasa cukup dan bersyukur karena nyaris semua cita-cita yang ia
tuliskan di kertas kecil yang ia simpan dulu telah terwujud. Kini, ia
yang memutuskan pensiun muda dan membangun sebuah yayasan yang concern
salah satunya untuk mengembangkan jiwa kewirausahaan anak muda
Indonesia.
Saat saya tanya apa rahasianya beliau masih tetap
semangat berbagi? Beliau menjawab, "Jangan pernah puas dengan apa yang
sudah dicapai. Naikkan lagi cita-citamu. Jika sudah cukup dengan
pencapaian diri, Bagikan kebahagiaan ini kepada banyak orang, agar lebih
banyak orang yang terbantu".
Subhanallah, perjalanan hidup
beliau sangat menginspirasi. Terimakasih Pak Budi Satria Isman, Anda
salah satu guru kehidupan kami.
Senin, 16 Juni 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar