"Bekerjalah untuk duniamu, sekakan-akan
engkau akan hidup selamanya. dan bekerjalah
untuk hari akhiratmu, seakan-akan engkau akan
mati besok"
Sahabat SETIA,
zaman terus berubah, perubahan yang syarat
kompetisi dan menuntut komptensi. Mari kita
perhatikan bagaimana perubahan teknologi
telekomunikasi misalnya. Dulu, orang begitu
bangga dengan pager, lalu saat diperkenalkan
handphone dengan teknologi smsnya, semua
berduyun-duyun beralih teknologi. sekarang
bahkan teknologi sms dan mms sudah mulai
hilang dikalahkan dengan teknologi yang lebih
canggih lagi. Mungkin dulu orang tak pernah
berpikir bisa chatting, browsing, bahkan
mendengarkan multimedia di sebuah
smartphone.Hari ini semua kebutuhan itu
terjawab hanya dengan membeli sebuah
smartphone berukuran segenggam tangan.
Hampir setiap menit, inovasi-invoasi dalam
teknologi, pendidikan, pelatihan, dan bahkan
semua bidang kehidupan berkembang dan
berubah sesuai fitrahnya. Jika dapat
diibaratkan, perubahan layaknya air sungai yang
mengalir deras tanpa henti, menghempaskan
kerikil dan pepasir yang tak mampu bertahan,
bahkan memecahkan bebatuan yang dikira tidak
akan pecah.
PERUBAHAN ibarat 2 mata pedang, di satu sisi,
memberikan senyum manis kebahagiaan bagi
orang yang sadar dan siap mengikutinya,
namun di sisi lain, perubahan juga menyisakan
isak tangis kepedihan dan kekecewaan pada
siapapun yang tak mau berubah dan bertahan
dalam cara-cara lamanya. Disini, kita sebagai
generasi muda bangsa mesti waspada dan
bersiap-siap dengan perubahan yang terjadi.
sidaknya, ada beberapa hal yang mesti kita
persiapkan untuk menyongsong perubahan
dalam hidup.Diantaranya:
1. Sikap terbuka pada perubahan
Banyak orang yang merasa cukup dengan cara-
cara lama yang sudah tidak menghasilkan,
padahal perubahan adalah keniscayaan.
Seorang sahabat pernah bersemangat
menceritakan ide bisnis yang ingin ia lakukan,
namun masih banyak pertimbangan untuk
memulainya. Ia berpikir ide bisnis ini belum ada
yang melakukannya dan sangat prospektif,
namun amat disayangkan, 5 hari
setelah ia mengatakannya, ada yang telah
melakukan ide bisnis tersebut. Dan ia hanya
mampu menggigit jari.
Mungkin juga Sahabat pernah membaca buku
tentang suatu tema, misalnya "dahsyatnya
otak", belum lama menamatkan buku
tersebut, sudah ada penemuan yang lebih
mencengangkan. (yang baca aja pusing, gimana
yang jarang baca? ke laut aje deh...).
So, mulailah bersikap terbuka dengan masukan,
saran dan kritikan orang lain, boleh jadi itu
tanda cinta mereka pada kita.
Berusahalah untuk terus memperbaiki cara-cara
lama yang sudah tidak menghasilkan, ganti
dengan cara-cara baru yang lebih
produktif.
2. Belajar dan berlatih tiada henti
Setelah Jepang di Bom atom, semua rakyat dan
pemerintah berkomitmen untuk memajukan
pendidikan, dan mempunyai target 10 tahun
sekali yang menjadi semangat baru bagi seluruh
rakyatnya, 10 tahun pertama Jepang ingin
menjadi negara industri yang sukses. Jepang
membuktikannya, Toyota, Mitsubishi, Honda,
dan banyak sekali industri yang menggurita
sukses bercokol hingga
kini. 10 tahun selanjutnya, Jepang ingin menjadi
negara yang sukses di bidang teknologi dan
komunikasi, sampai sekarang,Jepang pun telah
membuktikannya. Lalu bagaimana dengan
negara kita?
Ya, salah satu semangat mereka adalah Kaizen,
sederhananya perbaikan diri tiada henti.
Bagaimana pelayanan mereka yang
mengutamakan service excellent, bagaimana
minat baca orang Jepang yang setiap hari
melahap minimal 7 surat kabar per orang.
Buku pelajaran yang banyak dibuatkan versi
komiknya, sehingga membuat minat baca anak
bertambah, serta inovasi-inovasi
lainnya. Saya bukan sedang membandingkan
negeri kita dengan negeri matahari terbit itu.
Tapi mari kita mengambil hikmah
dari perubahan yang terjadi di sekitar kita.
3. Semangat mengembangkan kompetensi
Ada seorang teman yang menceritakan
bagaimana direkturnya yang luar biasa. Sang
direktur tak punya keahlian yang lebih
memukau dibandingkan kecakapan
berbahasanya, dari mulai bahasa Inggris,
Jerman, Jepang, dan bahasa lainnya ia kuasai.
Hanya
dari kemampuan berbahasa saja, ia sudah
melanglang buana ke seluruh penjuru dunia
untuk menimba ilmu dan studi banding
mewakili perusahaan tempat ia bekerja.
Amazing!!
Ada orang yang fokus pada kompetensinya
memainkan angklung. Maka negara Singapura,
Amerika, Belanda dan negara-negara
lainnya telah ia sambangi dengan kompetensi
intinya lalu bagaimana dengan kita? Sudahkah
kita bersemangat untuk terus
mengenali, menggali serta mengupgrade
kompetensi yang kita miliki. Bahkan dewasa ini,
kemampuan Bahasa Inggris saja sudah
mulai tak cukup, bahasa mandarin pun harus
mulai dikuasai mengingat Cina terlihat lebih
siap menyongsong era globalisasi.
(Weleh-weleh, Bahasa Inggris aja belepotan.
hehe..)
Mari simak, ayat nan indah dari Allah, yang
Maha Mengerti kebutuhan kita,
"Yaa Ayyuhalladziina aamanuuttaqullaha wal
tandzur ma qoddamat ligodh"
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah
kepada Allah, dan persiapkanlah hari esokmu"
Semoga kita bisa terus berubah ke arah yang
lebih baik. Aamiin
Minggu, 22 Juni 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar